Thank You


Thank you sooo much for stopping by, but we’ve moved to:

 

http://mamaaksi.com

 

Visit our new home, please…. πŸ™‚

Masya Alloh… Ga Tahan Gatelnya…


Dari kecil sudah diberi penyakit ini: alergi kulit. Pemicunya biasanya karena udara dingin dan kondisi badan yang sedang ga fit.
Dari zaman duluuu…udah biasa banget dengan bentol-bentol di kulit. Bukan bentol yang kecil-kecil, tapi bentol besar yang berwarna merah dan kalau dipegang terasa panas. Bukan hanya panas luarnya loh, dalamnya juga. Gatal dan panas…hrrrr…
Bikin ga tahan deh rasanya pengen menggaruk kesana kemari dg sekeras-kerasnya. Tapi biasanya makin digaruk malah makin gatal rasanya 😦
Jadi dari SMP udah biasa mengkonsumsi obat-obat pereda gatal semacam allergine udah biasa juga dengan efek ngantuknya πŸ˜€
Uniknya, pada saat kelas 3 SMA sempat ikut dengan teman naik ke gunung Gede dan ngerasain dingin yang luar biasa ekstrim karena harus bertahan di dinginnya puncak gunung dari jam 2 pagi sampai subuh tanpa jaket karena ada suatu kejadian yg ga diinginkan terjadi.
Setelah turun dari gunung Gede itu justru alergi dinginku “sembuh” atau lebih tepatnya ga pernah kambuh lagi.
Baru kemudian setelah ngelahirin Micky, alergi mulai sering kambuh lagi. Mungkin karena daya tahan tubuh yang menurun.
Dan kemudian terus berulang sampai sekarang Micky udah punya adik yg berumur hampir 7 tahun. Dan sekarang pun aku menulis postingan ini demi ngalihin pikiranku dari rasa gatal yang huwaaaaa….gatel bangeeetttt! *ah, jadi inget lagi deh!*

Bentol di Tangan. Ini kecil looh...

Bentol di Tangan. Ini kecil looh…

Posted with WordPress for BlackBerry.

Cingcau Citarum


Tahu cingcau kan? ya, minuman penyegar ini emang udah sangat akrab dengan lidah orang Indonesia.

Warnanya hijau tua, bentuknya kenyal seperti jelly, biasa dihidangkan dengan saus gula dan santan dengan tambahan es. Rasanya adem di tenggorokan. Konon katanya bermanfaat untuk meredakan panas dalam.

Kalau anda kebetulan melintas di jembatan Citarum dalam perjalanan antara Bandung-Cianjur, maka akan melihat jajaran jongko-jongko kecil penjual cingcau di kiri kanan jalan. Oia, jembatan Citarum merupakan batas antara Kabupaten Cianjur dengan Kabupaten Bandung. Nah…jongko-jongko cingcau ini adanya di tepi sungai yang masuk wilayah Kabupaten Cianjur.

Beberapa waktu lalu, dalam perjalanan Bandung-Cianjur aku dan keluarga mampir di salah satu jongko untuk menikmati segarnya cingcau sambil sekedar melepas penat di jalan.

Anak-anak seneng banget karena bisa lepas dari “himpitan” mobil dan menghirup udara segar.

 

Anak-anak ceria bebas dari "himpitan" mobil

Suasana jongko Cingcau yang adem

Ibu penjual cingcaunya ikutan mejeng...hehe... πŸ˜€ (ibunya bilang:"Entong ah, Neng..." tapi wajahnya berseri-seri)

Suasana jalan dimana jongko-jongko cingcau berada yang cukup menyenangkan

Keluarga penikmat cingcau citarum πŸ˜€

Aiiiiiihhh....cakep bener! anak siapa siiiih? suka minum cingcau ya? πŸ˜‰

Betaaaah...males nerusin perjalanan!

Naaaah….jadi, kalau anda kebetulan lewat kesitu, ga ada salahnya mampir dulu menikmati segelas cingcau yang akan meredakan haus dan dahaga anda (halah… :p) sambil meluruskan kaki dan menghirup udara segar supaya tidak penat di jalan.

A Decade of Love, Passion, and Commitment, It’s Perfect Ten!


02 February 2001 –

02 February 2011

Alhamdulillah….meskipun tidak selalu mudah, kami bisa melalui dekade pertama pernikahan kami. Kalau di judul di atas aku menuliskan “Perfect Ten” bukanlah berarti rumah tangga kami sempurna, tapi buat kami bisa mencapai usia sepuluh tahun terasa sangat istimewa, seistimewa angka sepuluh yang kalau dalam deretan nilai merupakan angka terbaik!

Keputusan untuk menikah di usia muda bukanlah keputusan yang mudah, benar-benar membutuhkan niat dan komitmen yang kuat. Tapi kami bisa membuktikan keseriusan kami. Melewati tahun-tahun pertama pernikahan yang awalnya terasa agak aneh tapi kemudian membuat kami nyaman satu sama lain.

Kalau diingat-ingat sih, rasanya tidak sulit koq, meskipun kesulitan sering kali datang, karena kami melaluinya dengan nikmat, dengan penuh rasa senang. Ada cinta, gairah, dan komitmen dalam setiap langkah kami.

Melewati hari-hari tanpa uang, jungkir balik berusaha mengatasi perbedaan-perbedaan yang muncul, kecemburuan, dan rasa jenuh mungkin jadi bagian perjalanan kami. But we’re still here! stick one to each other, still so much in love!

Alhamdulillah….sekarang kami tidak hanya berdua, ada dua malaikat cilik yang mewarnai dan menyempurnakan kehidupan kami. Mikyal Lateefa Hasna Mutawali (Micky, 8 th) dan Muhammad Ghifary Fadhel Mutawali (Aik, 6 th) jadi pengikat yang paling kuat buat kami berdua, harta kami yang paling berharga.

Kalau diingat-ingat lagi, rasanya manis dan agak lucu mengingat bagaimana polos, naif, dan culunnya kami dulu πŸ™‚ tapi Alhamdulillah waktu dan berbagai pengalaman hidup membuat kami lebih dewasa. Lihatlah, bagaimana suamiku sekarang tampil menjadi seorang pemimpin yang membanggakan.

Belakangan, aku semakin menyadari keistimewaan suamiku tercinta, dan kadang terbengong-bengong dengan pikiran “Koq dia baik banget, ya?”

Aku sangat menghargai kesediaannya turun tangan membantuku menangani anak-anak bahkan sampai ke urusan yang sangat domestik seperti memandikan, menyuapi, menggorengkan telur untuk Aik yangΒ  “Telur goreng mania”. Juga kesigapannya memanjakanku :-).Β  Yang lucu, biasanya kalau aku punya event biasanya suamiku yang lebih gelisah memikirkan acaranya daripada aku sendiri. Biasanya belio susah tidur pada malam menjelang acara sementara aku yang punya hajatan tidur pules πŸ˜€

Ah…thx so lot honey! big hugs for you!

 

p.s.

Kalau ada yang menganggap tulisan ini boring, terlalu narsis, silakan close tab aja yah πŸ˜‰

 

 

 

Ibu…


Bu…..
Anganku melayang ke masa kanak-kanak dulu
masih nampak jelas di benakku bagaimana kau selalu
mendandaniku secantik mungkin
dengan barang-barang terbaik yang mampu kau beli

Aku juga masih ingat, bagaimana di masa-masa sulit dulu kau selalu berusaha
menghadirkan segelas susu dan sebutir telur untuk sarapanku
aku selalu mendapat butiran telur utuh
sementara kau dan bapak harus membagi dua telur yang kalian makan

Aku selalu mendapat dukungan untuk belajar,
untuk menjadi yang terbaik yang bisa kulakukan
Akulah bintang kecil yang bersinar bagimu

Tahun-tahun kemudian……..
Aku mulai tumbuh….
aku masih ingat bagaimana khawatirnya ibu ketika mengetahui
mulai ada anak laki-laki yang suka padaku
kau gusar sekali ketika suatu malam minggu
tiba-tiba ada anak laki-laki tanggung dengan tampang cengengesan
datang berkunjung menanyakanku…

Lalu….
perubahan-perubahan itu mulai terjadi padaku
aku mulai merasa asing dengan diriku
begitu juga Ibu, Ibu mulai tidak mengenali gadis kecilmu
aku mulai merasa lebih pintar dari ibu
mulai merasa berani untuk menentang tatapan matamu
mulai berani untuk mengatakan tidak terhadap apapun yang ibu katakan
mulai berani untuk menyakiti hatimu….

Kita mulai menjauh…..
Oh, tidak…. bukan kita, tapi aku yang menjauhimu
aku tidak mau lagi Ibu mengatur hidupku
aku merasa bisa menentukan hidupku sendiri
aku merasa bisa menemukan cinta lain yang melebihi cintamu
aku merasa aku bisa berdiri tegak tanpa sokonganmu

Aku tidak mempedulikan bengkak matamu, cekung wajahmu, dan susutnya bobot tubuhmu
entah berapa banyak air mata yang kau alirkan karenaku
entah berapa juta baris do’a yang kau untaikan untukku
entah berapa malam kau habiskan tanpa sekejap pun memicingkan mata

Di satu titik…
kebodohanku akhirnya tercerahkan
kutemukan tidak ada cinta yang tanpa syarat seperti milikmu
tidak ada tangan yang menerimaku tanpa meminta seperti tanganmu
tidak ada tempat aku bisa berbalik dengan segala kesedihan selain pelukanmu
tidak ada kedamaian kutemukan selain di hatimu

Engkau mungkin tidak selalu ada di hatiku
tapi aku sangat yakin bahwa aku selalu ada di hatimu
Dan sekarang, dengan seluruh keyakinan yang pernah kumiliki
aku bisa mengatakan…….
aku mencintaimu
aku mencintai kesederhanaanmu
aku mencintai kekerasan hatimu
aku mencintai pengorbananmu
aku mencintai keteguhanmu memegang prinsip
aku mencintai segala yang ada padamu

Welcome My Mature Age


Jujur saja, dulu aku sering merasa ga pede menghadapi usia tigapuluhan. Selalu muncul pertanyaan-pertanyaan seperti “How would it be?” dan tentunya kekhawatiran bahwa aku ga muda lagi πŸ˜‰

Dan akhirnya, berlalu lah dengan mulusnya (beberapa kejadian ga mulus juga, actually) usia duapuluhanku. Hm…bukan wanita duapuluhan lagi ya?

Seperti apa rasanya menjadi wanita berusia tigapuluh? ah, ternyata luar biasa!

Hidup terasa lebih menyenangkan karena masa-masa labil pencarian jati diri sudah berlalu. Sekarang aku merasa lebih confident, lebih tahu apa yang aku inginkan dan bagaimana mewujudkannya. Juga, lebih nyaman dengan diri sendiri. Tidak lagi mengkhawatirkan ini itu segala kekurangan yang nampak di fisik.

Sekarang aku lebih bahagia dengan diriku sendiri karena bisa menerima segala kelebihan, kekurangan dan keterbatasanku secara utuh. Kalau perasaan dicintai oleh orang lain terasa indah, perasaan dicintai oleh diri sendiri ternyata jauuuh…lebih indah πŸ™‚

Khawatir dengan penuaan? ah, ngga juga! it’s natural process…tidak ada yang salah dengan menjadi lebih tua secara bilangan umur asalkan disertai juga dengan kedewasaan dalam pemikiran. As people always say :”Menjadi tua itu pasti dan menjadi dewasa itu pilihan”, aku memilih untuk menjadi wanita tiga puluh tahun yang dewasa (tapi ga sok tua…hehe…).

Well…sekali lagi, tidak ada yang salah dengan usia dewasa. Sesuai dengan proses alam, tiap tahap kehidupan pasti ada sisi-sisi menarik yang bisa dinikmati. Tinggal bagaimana kita bisa menemukan sisi menarik yang bisa dieksplorasi dan dinikmati.

Terakhir, aku mau mengucapkan terima kasih untuk bundadontworry buat inspirasinya.

Happy Birthday Dear Love


Wooohooo…hunny bunny luvy daffy sweety pretty hubby ultah ke-30!

Happy birthday papa! smoga Alloh swt senantiasa melindungi dan memberkahimu. Getting older means getting wiser, right? I wish…

Rasanya pengen ngasih hadiah istimewa. Tapi apa ya? kalo ngasih hadiah barang yang dibeli dengan uang yang kudapat dari kamu rasanya koq ga afdhol ya? ah, hadiahnya ak bikinin kue ultah yang special aja ya….dengan sentuhan buah yang papa suka banget: Lychee alias leci!

 

udah ga cantik ya? udah dipotong-potong hehe...:D

Bentuknya emang ga seberapa, tapi rasanya…..ajiiiiib yummi banget! (promosi ndiri…hihi…) buktinya papa suka banget dan berulang-ulang muji, katanya lembut, wangi dan manis seperti akyu….hahaha….(attention: postingan ini dibuat saat lagi agak-agak ‘overloaded’ jd mohon maap kalo agak kurang menyenangkan untuk dibaca).

Yang paling menyenangkan, it’s a surprise! papa lupa banget hari ultahnya, jadi agak bete dengan sikapku yang misterius πŸ˜‰ tapi pas tahu aku sengaja bikin kejutan, senyuman pun mengembang πŸ™‚ plus jitakan kecil di kepala “dasar jail kamu ini!”

Sekali lagi, happy birthday dear love….