Ibu…


Bu…..
Anganku melayang ke masa kanak-kanak dulu
masih nampak jelas di benakku bagaimana kau selalu
mendandaniku secantik mungkin
dengan barang-barang terbaik yang mampu kau beli

Aku juga masih ingat, bagaimana di masa-masa sulit dulu kau selalu berusaha
menghadirkan segelas susu dan sebutir telur untuk sarapanku
aku selalu mendapat butiran telur utuh
sementara kau dan bapak harus membagi dua telur yang kalian makan

Aku selalu mendapat dukungan untuk belajar,
untuk menjadi yang terbaik yang bisa kulakukan
Akulah bintang kecil yang bersinar bagimu

Tahun-tahun kemudian……..
Aku mulai tumbuh….
aku masih ingat bagaimana khawatirnya ibu ketika mengetahui
mulai ada anak laki-laki yang suka padaku
kau gusar sekali ketika suatu malam minggu
tiba-tiba ada anak laki-laki tanggung dengan tampang cengengesan
datang berkunjung menanyakanku…

Lalu….
perubahan-perubahan itu mulai terjadi padaku
aku mulai merasa asing dengan diriku
begitu juga Ibu, Ibu mulai tidak mengenali gadis kecilmu
aku mulai merasa lebih pintar dari ibu
mulai merasa berani untuk menentang tatapan matamu
mulai berani untuk mengatakan tidak terhadap apapun yang ibu katakan
mulai berani untuk menyakiti hatimu….

Kita mulai menjauh…..
Oh, tidak…. bukan kita, tapi aku yang menjauhimu
aku tidak mau lagi Ibu mengatur hidupku
aku merasa bisa menentukan hidupku sendiri
aku merasa bisa menemukan cinta lain yang melebihi cintamu
aku merasa aku bisa berdiri tegak tanpa sokonganmu

Aku tidak mempedulikan bengkak matamu, cekung wajahmu, dan susutnya bobot tubuhmu
entah berapa banyak air mata yang kau alirkan karenaku
entah berapa juta baris do’a yang kau untaikan untukku
entah berapa malam kau habiskan tanpa sekejap pun memicingkan mata

Di satu titik…
kebodohanku akhirnya tercerahkan
kutemukan tidak ada cinta yang tanpa syarat seperti milikmu
tidak ada tangan yang menerimaku tanpa meminta seperti tanganmu
tidak ada tempat aku bisa berbalik dengan segala kesedihan selain pelukanmu
tidak ada kedamaian kutemukan selain di hatimu

Engkau mungkin tidak selalu ada di hatiku
tapi aku sangat yakin bahwa aku selalu ada di hatimu
Dan sekarang, dengan seluruh keyakinan yang pernah kumiliki
aku bisa mengatakan…….
aku mencintaimu
aku mencintai kesederhanaanmu
aku mencintai kekerasan hatimu
aku mencintai pengorbananmu
aku mencintai keteguhanmu memegang prinsip
aku mencintai segala yang ada padamu

Welcome My Mature Age


Jujur saja, dulu aku sering merasa ga pede menghadapi usia tigapuluhan. Selalu muncul pertanyaan-pertanyaan seperti “How would it be?” dan tentunya kekhawatiran bahwa aku ga muda lagi 😉

Dan akhirnya, berlalu lah dengan mulusnya (beberapa kejadian ga mulus juga, actually) usia duapuluhanku. Hm…bukan wanita duapuluhan lagi ya?

Seperti apa rasanya menjadi wanita berusia tigapuluh? ah, ternyata luar biasa!

Hidup terasa lebih menyenangkan karena masa-masa labil pencarian jati diri sudah berlalu. Sekarang aku merasa lebih confident, lebih tahu apa yang aku inginkan dan bagaimana mewujudkannya. Juga, lebih nyaman dengan diri sendiri. Tidak lagi mengkhawatirkan ini itu segala kekurangan yang nampak di fisik.

Sekarang aku lebih bahagia dengan diriku sendiri karena bisa menerima segala kelebihan, kekurangan dan keterbatasanku secara utuh. Kalau perasaan dicintai oleh orang lain terasa indah, perasaan dicintai oleh diri sendiri ternyata jauuuh…lebih indah 🙂

Khawatir dengan penuaan? ah, ngga juga! it’s natural process…tidak ada yang salah dengan menjadi lebih tua secara bilangan umur asalkan disertai juga dengan kedewasaan dalam pemikiran. As people always say :”Menjadi tua itu pasti dan menjadi dewasa itu pilihan”, aku memilih untuk menjadi wanita tiga puluh tahun yang dewasa (tapi ga sok tua…hehe…).

Well…sekali lagi, tidak ada yang salah dengan usia dewasa. Sesuai dengan proses alam, tiap tahap kehidupan pasti ada sisi-sisi menarik yang bisa dinikmati. Tinggal bagaimana kita bisa menemukan sisi menarik yang bisa dieksplorasi dan dinikmati.

Terakhir, aku mau mengucapkan terima kasih untuk bundadontworry buat inspirasinya.